"Namaku, Plasura." Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya, suaranya tenang namun penuh ketegasan. Namun, di dalam pikirannya, ia menyunggingkan senyum tipis.

"Plasura... Prajurit Planet Surya," batinnya.

Lynx teringat bahwa pulau tempat Suku Surya berasal sebelumnya belum memiliki nama yang pasti. Selama ini, menyebutnya hanya sebagai 'pulau' atau 'dimensi' terasa kurang tepat. Sejak saat ini, ia akan menyebutnya sebagai Planet Surya—sebuah dunia tempat Suku Surya lahir dan berkembang.

Dari kedua belah pihak, bisikan terdengar, menggumamkan nama tersebut. Sebuah nama yang begitu asing di telinga mereka, sulit untuk dihafalkan, bahkan terasa tidak wajar.

"Kak Ling Mei, dia menyebut dirinya sebagai Plasura. Apakah kamu tahu apa artinya?" tanya Li Wei dengan nada penuh rasa ingin tahu.

Lala dan Ling Mei saling bertatapan, seolah dengan satu pandangan saja mereka sudah memahami isi pikiran masing-masing. Mereka lalu berkata bersamaan, "Nama yang aneh."

Mereka berusaha menahan tawa, menyadari betapa sembarangnya Lynx dalam memilih nama.

"Ling Mei, setelah ini kita harus menanyainya," bisik Lala, suaranya penuh keisengan. "Apa arti nama itu? Kenapa dia memilihnya? Dia harus memberikan kita penjelasan yang masuk akal."

Li Wei dan Ling Mei mengangguk setuju. Dalam hati, Li Wei bertekad untuk mengetahui alasannya juga. Bukankah ia sudah mengetahui siapa sosok di balik pakaian aneh itu?

Sementara itu, di pihak lawan, grandmaster wanita bertopeng perak mengamati sosok yang berdiri tegap di hadapannya. Ia mempersempit matanya, menganalisis setiap gerakan dan intonasi suara pria itu.

"Dari suaranya, aku bisa menebak dia adalah seorang pria muda," pikirnya. "Aku tidak mungkin salah. Pakaian yang ia gunakan pasti bukan sekadar perlindungan biasa, melainkan manifestasi dari kekuatan uniknya. Jika aku bisa mendapatkannya..."

Tiba-tiba, mata Lynx menyipit, tatapannya mengarah ke langit. Riak energi yang begitu kuat mendekat dengan kecepatan luar biasa, membuat udara di sekitarnya bergetar halus.

"Menarik… Ada seseorang yang datang," batinnya dengan tenang.

Awalnya, ia mengira itu hanyalah bala bantuan bagi para Grandmaster Sekte Kegelapan. Namun, dalam sekejap, hal yang tak terduga terjadi. Sosok yang baru datang bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun, tetapi kelima Grandmaster Sekte Kegelapan mendadak membeku di tempat! Sosok tersebut mengunci gerakan mereka yang hendak melarikan diri. Wajah mereka yang sebelumnya sudah ketakutan karena sosok Plasura kini menjadi lebih ketakutan dengan kedatangan sosok yang datang.

Kengerian menyelimuti ekspresi mereka saat menyadari bahwa kekuatan yang baru muncul ini jauh di atas mereka.

Hari ini benar-benar menjadi mimpi buruk bagi mereka.

WUUUSHHH!!

Langit bergetar hebat, pusaran energi membentuk kobaran api raksasa di angkasa. Suhu udara meningkat tajam, membuat napas para murid Sekte Api Langit terasa berat. Tekanan dahsyat turun dari langit, seolah membakar seluruh tempat.

Lalu, suara menggelegar menggema, membawa guncangan yang mengguncang jantung siapa pun yang mendengarnya.

"SIAPA YANG BERANI MENGGANGGU SEKTE API LANGITKU?!"

Dari dalam pusaran api, seorang lelaki tua melangkah keluar. Jubah merahnya berkibar liar dalam pusaran angin panas, matanya bersinar seperti bara yang menyala. Rambut dan janggut putihnya kontras dengan auranya yang membakar seperti matahari.

Saat berkultivasi untuk meningkatkan ranah kekuatannya, dia merasakan giok yang terhubung dengan anaknya tiba-tiba hancur, menandakan sesuatu telah terjadi sehingga dia dengan cepat keluar dari tempat latihannya dan segera terbang menuju ke sekte.

Lynx hanya menatapnya dengan santai, ekspresinya tetap datar.

"Immortal tingkat menengah… lumayan," pikirnya tanpa beban.

Namun, bagi para murid dan tetua Sekte Api Langit, kedatangan lelaki tua itu bagai cahaya di tengah kehancuran.

"Hormaaat pada Leluhur Sekte!"

Para murid dan tetua serempak bersujud, suara mereka penuh rasa hormat dan harapan.

Leluhur Sekte Api Langit mengedarkan pandangannya, matanya menyapu setiap sudut sekte yang kini luluh lantak. Puing-puing berserakan, darah menodai tanah, dan para murid yang terluka tergeletak di mana-mana. Ekspresinya mengeras, sorot matanya menajam seperti pedang.

"Siapa yang melakukan ini?" suaranya datar, namun mengandung hawa api yang menyala-nyala.

Namun, yang keluar dari bibirnya selanjutnya membuat semua orang terdiam.

"Di mana Zhao Xinyue? Kenapa sekte ini menjadi seperti ini?"

Para tetua menegang. Salah seorang dari mereka maju dan bersujud dalam-dalam.

"Leluhur! Kelima Grandmaster Sekte Kegelapan ini yang menghancurkan sekte kami! Namun..." Tatapan sang tetua beralih ke arah Lynx, wajahnya penuh keraguan dan ketakutan. "Orang itu… dialah yang membunuh Ketua Sekte!"

"APA?!"

Sang Leluhur Sekte Api Langit menoleh dengan tajam, tatapannya menusuk seperti bilah pedang yang dibakar api.

"Anakku terbunuh...? Zhao Xinyue... mati...?"

Suasana seketika menjadi tegang.

Mata Leluhur Sekte kini tertuju penuh pada Lynx. Aura panas yang mengelilinginya semakin membara, suhu di sekitarnya melonjak drastis. Para murid yang lebih lemah bahkan harus mundur beberapa langkah untuk menghindari gelombang panas yang menekan tubuh mereka.

"Immortal..." desisnya, suaranya dipenuhi amarah yang tertahan. "Pantas kau bisa membunuh anakku!"

Api mulai berkobar di sekeliling tubuhnya, membentuk gelombang energi yang menyelimuti seluruh area.

Lynx tetap berdiri tegak, matanya menatap lurus tanpa sedikit pun rasa gentar.

Tanpa peringatan, dalam satu gerakan cepat, tangan Leluhur Sekte Api Langit terangkat ke langit. Seketika, angkasa bergemuruh, seolah merespons kemarahannya.

WHOOOSHH!!

Dari atas langit yang bergetar, pilar api raksasa mulai terbentuk. Api membara berkumpul dan berputar dengan dahsyat, membentuk tombak raksasa yang tampak seolah mampu menembus surga itu sendiri.

"Flame God's Judgement."

Seketika, wajah para murid dan tetua Sekte Api Langit dipenuhi keyakinan. Jurus penghancur yang hanya bisa digunakan oleh pemimpin mereka kini dipanggil oleh sang Leluhur sendiri!

Mereka semua segera mundur dengan panik.

"Kita harus menjauh! Jika tidak, kita juga bisa terbakar menjadi abu!" seru salah seorang tetua dengan wajah pucat.

BOOM! BOOM!

Tekanan api yang menyebar dari tombak tersebut menyebabkan udara bergetar, membakar tanah di sekitarnya, bahkan batu-batu mulai meleleh hanya karena hawa panasnya.

Di kejauhan, Ling Mei, Lala, dan Li Wei mengepalkan tangan mereka dengan erat. Keringat dingin mengalir di dahi mereka, meskipun udara sekitar terasa membara.

"Jurus ini… kekuatannya jauh lebih besar daripada yang pernah digunakan Ketua Sekte…" kata Ling Mei dengan suara gemetar.

"Aku bahkan tidak bisa bernapas dengan normal!" Li Wei menggertakkan giginya, mencoba bertahan dari tekanan yang mengerikan.

Flame God's Judgement. Kekuatan penghukuman Dewa Api yang mampu melelehkan gunung dan mengeringkan lautan. Sebuah teknik tertinggi yang memerlukan energi spiritual luar biasa untuk digunakan. Bahkan Zhao Xinyue, Ketua Sekte yang telah mati, hanya bisa menggunakannya sebagai jurus terakhirnya. Namun, di tangan Leluhur Sekte, teknik ini muncul tanpa ragu sedikit pun.

"MATILAH!!"

Tombak api raksasa itu melesat turun seperti meteor yang jatuh dari surga, langsung mengarah ke Lynx dan kelima Grandmaster Sekte Kegelapan!

Kelima Grandmaster bahkan belum sempat bereaksi ketika api suci itu menelan mereka sepenuhnya.

"ARGHHHHH!!"

Jeritan mereka menggema seiring dengan tubuh mereka yang langsung berubah menjadi abu dalam sekejap. Tidak ada yang tersisa, tidak ada tulang, tidak ada daging. Hanya angin yang membawa sisa-sisa abu mereka, tersebar ke segala arah.

BOOOOMMM!!

Ledakan besar mengguncang Sekte Api Langit. Gelombang kejut yang dihasilkan menghancurkan lebih banyak bangunan yang sudah porak-poranda sebelumnya.

Para tetua, guru, dan murid yang tersisa berteriak panik. Dengan sisa energi mereka, mereka buru-buru bekerja sama menciptakan perisai spiritual untuk melindungi diri dari serangan sisa.

Sementara itu, Ling Mei ingin berlari menghampiri Lynx, tapi Lala buru-buru meraih bahunya, menahannya.

"Percayalah padanya. Dia pasti baik-baik saja," kata Lala lirih.

Namun, meskipun suaranya terdengar yakin, hatinya sendiri dipenuhi keraguan. Tanpa sadar, ia menggigit bibirnya sendiri hingga mengeluarkan darah.

Di sisi lain, Li Wei terduduk lemas, tubuhnya gemetar. Matanya membelalak tak percaya, dan sebelum ia menyadarinya, air mata mengalir di pipinya.

"Xiao Ling... dia kuat... tapi..." batinnya dengan tubuh bergetar. "Aku belum pernah melihatnya terkena serangan sebesar itu sebelumnya..."

